Manusia selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup. Karena sudah menjadi sifat dasar makhluk sosial. Sering bertemu dengan banyak orang baru adalah suatu hal yang biasa terjadi. Berlaku juga denganku. Mungkin ada di antara kalian, dekat dengan orang baru adalah hal yang mudah. Namun tidak bagiku. Sangat sulit sekali. Aku harus mencoba memahami karakternya dan segala hal tentangnya.
Begitu juga susah bertemu dengan orang yang tulus dalam membantuku. Aku membutuhkan orang yang datang di saat aku butuh. Bukan hanya saat dia membutuhkanku saja. Pasti kalian paham kan apa yang ku maksud ? Oh teman dekat ya ? atau sahabat ? Ya, benar sekali.
Menurutku, sahabat adalah bukan hanya sekadar teman biasa saja, tetapi yang selalu ada saat suka maupun duka. Sahabat juga anugerah yang Allah SWT berikan kepadaku. Menjadi yang paling akrab dan paling mengertiku selain keluarga. Bahkan aku lebih sering curhat soal apapun kepadanya.
Oiya kalian penasaran gak sih ? siapa sahabatku itu. Terus gimana ceritanya dari teman biasa bisa aku anggap jadi saudaraku sendiri.
Sebelumnya aku mau memperkenalkan sahabatku dulu ya. Hai, kenalin ini sahabatku nama lengkapnya Nuriyah Nofasari. Satu kampus dengankku namun beda kelas. Aku kenal dengannya saat kami mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bidang olahraga. Kesan pertama ku bertemu dengannya yaitu dia orangnya cuek, jutek lagi, dan terkesan bodo amat hehehe. Eits, jangan bilang-bilang ke dia ya. Hanya kita saja yang tahu. Oke…oke.
Kebetulan kami satu forum beasiswa juga dan sama-sama pengurus di jurusanku. Sehingga membuat kami tambah dekat dan ke mana-mana selalu bareng. Mau daftar panitia acara aja nanyain dulu ikut apa engga.
Bukan hanya dekat di kampus saja tapi rumah kami pun dekat. Aku sering banget main ke rumahnya, tetapi selalu nyasar mulu hehe. Makanya selalu dipesen ojek online dari sana. Entah itu mau ngerjain tugas bareng atau sekedar main saja. Aku pun sudah dekat dengan keluarganya apalagi ibunya. Ibunya sangat baik dan sudah aku anggap seperti ibuku sendiri bahkan tidak sungkan cerita kepadanya.
Karena kami searah, berangkat kuliah pun barengan. Walaupun ketemuan di manggarai sih. Ia berkata, "udah jalan belum ? udah sampai stasiun belum ? sekarang lagi di mana ? aku udah di peron 8 ya paling depan. Itulah rutinitas tiap pagi ku bersama Nuriyah. Aaaaaa kangen.
Ketika aku sedang ada masalah yang tidak bisa kuceritakan kepada orang tuaku. Aku tidak ragu curhat ke dia. Dengan curhat aku merasa lebih ringan. Bukan hanya aku saja, tetapi dia pun begitu. Saling memahami, mendengarkan, dan mengingatkan satu sama lain itulah yang kami lakukan.
Orang-orang sering banget beranggapan kalau kami itu satu kelas. Ada yang bilang, kalau kami anak kembar. Gak habis pikir sih, kenapa ada yang bisa bilang seperti itu. Padahal sudah jelas ibu dan bapaknya saja berbeda hehehe. Apa mungkin karena kami sering bareng-bareng kali ya ? terus suka pake baju samaan gitu tanpa direncanakan. Ada juga orang nyapa kami berdua malah terbalik, Nuriyah jadi Yuli dan Yuli jadi Nuriyah hahaha. Ada lagi yang bilang, kalau di situ ada aku pasti ada Nuriyah juga. Aneh sih tapi kadang lucu kalau diingat-ingat bikin ketawa mulu.
Yang lebih parah adalah orang bilang kalau kami itu terjebak cinta segitiga sama sahabat cowok kami. Padahal sahabat kami itu sudah punya pacar. Asli saat kami tau ada yang beranggapan seperti itu, kami berdua cuma ketawa sangat keras doang. Aneh banget ada yang mikir seperti itu. Catat ya, kita bertiga cuma sahabatan, kalaupun ada rasa ya pasti rasa sayang ke sahabat aja gak lebih, ya kan Nur.
Saat
barengan aku dan Nuriyah bukan akur tapi malah selalu ribut, berantem,
berisik,
dan debat mulu padahal masalah kecil. Sifat asliku keluar ketika
bersamanya.
Tidak ada kata jaim lagi. Tanpa sadar kebiasaanku dan dia memiliki
banyak
kesamaan. Makanya aku merasa sangat klop sama dia. Aku dan Nuriyah juga
punya sahabat bernama Natasya. Kami bertiga kalau ke mana-mana selalu
bareng juga loh. Jadi trio deh
Yang paling kurindukan adalah saat kami sedang lelah-lelahnya soal kampus dan tepatnya masih di perjalanan menuju pulang. Tanpa malu kami nyanyi lagu galau padahal banyak orang di kereta. Itu salah satu hal tergila yang pernah aku lakukan dengannya.
Teruntuk Nuriyah, makasih selalu mengingatkan aku hal kecil dan ketika salah. Makasih sudah mau mendengarkan curhatku, menyemangatiku dalam segala hal, mau direpotkan, dan menemani saat aku bersedih. Aku gak tau mau bilang apalagi, intinya makasih banyak telah hadir dalam hidupku. Kehadiranmu sempurnakan hariku.
Maaf jika aku belum bisa menjadi sahabat terbaikmu. Tapi tenang saja, aku selalu ada dan berusah terus lebih baik…lagi…lagi dari sebelumnya. Terima kasih pernah membuatku merasakan tawa, marah, bahagia, tersenyum, dan kesal kepadamu. Jangan pernah berubah ya. Tetap jadi nuriyah yang aku kenal. Aku sangat bersyukur Allah SWT mempertemukanku denganmu untuk mengisi hariku bersama sahabat yang luar biasa. Terima kasih sudah menjadi sahabatku. Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri.

