![]() |
| Photo by : Freepik |
Setelah berpikir matang-matang, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yaitu kuliah.
Aku ingin kuliah dengan jurusan kesehatan di Universitas Airlangga (UNAIR) terutama kebidanan.
Mengikuti jalur rapot atau biasa disebut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dengan pilihan kebidanan dan teknobiomedik, Universitas Airlangga (UNAIR) dan perawat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta).
Saat pengumuman kata maaf yang keluar. Sedih, kecewa, menyalahkan diri sendiri semua menjadi satu. Memang butuh waktu untuk menerima penolakan. Bangkit dan mencoba ikhlas itulah yang aku lakukan sambil berkata, “mungkin belum rezeki.”
Aku mengikuti ujian tertulis jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN). Aku menurunkan egoku dan mengikuti saran ibu untuk mengambil yang daerah Jakarta. Pertama, Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kedua, Agribisnis dan Pendidikan Matematika, Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN Syarifhidayatullah).
Rasa penasaran dan ingin mencoba masih sangat besar. Aku mengikuti lagi tes Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). Belajar hanya lewat buku yang kubeli dengan mengerjakan soal latihan dan prediksi ujian.
Gagal masuk ketahap berikutnya, karena tidak melewati nilai ambang batas. Kecewa ada, tapi tidak sesakit SNMPTN. Kegagalan keduaku terjadi lagi.
Tibalah pengumuman SBMPTN, lagi dan lagi maaf terus yang tertulis. Sebenarnya aku yakin aku tidak lolos, tetapi tetap aja kecewa dan berakhir menangis. Emang dasar aku.
Karena itu, sebelum pengumuman SBMPTN aku sudah membuat rencana ikut Ujian Mandiri (UM) di Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
Di
Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) aku memilih D4 – Administrasi Bisnis Terapan,
D3 – Penerbitan (Jurnalistik), dan D3 – Administrasi Bisnis Terapan. Untuk Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) memilih S1 – Gizi dan S1 –
Agribisnis.
Alhamdulillah aku diterima dua-duanya. Panjang ya prosesnya ? memang seperti itu. Aku menikmati prosesnya. Bangga pada diri sendiri bisa melewati semua rasa sedih, bosan, jenuh, dan kecewa.
Jika kalian pernah mengalami hal yang sama sepertiku, mengalami kegagalan terus menurus. Cobalah berpikir postif bahwa, Tuhan masih ingin melihat usaha dan prosesmu. Mungkin Ia ingin mengujimu juga. Apakah kamu akan tetap semangat atau memilih diam ?

