Follow Us @soratemplates

Rabu, 30 September 2020

Teman Tapi Rasa Saudara

September 30, 2020 129 Comments




Manusia selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup. Karena sudah menjadi sifat dasar makhluk sosial. Sering bertemu dengan banyak orang baru adalah suatu hal yang biasa terjadi. Berlaku juga denganku. Mungkin ada di antara kalian, dekat dengan orang baru adalah hal yang mudah. Namun tidak bagiku. Sangat sulit sekali. Aku harus mencoba memahami karakternya dan segala hal tentangnya.

 

Begitu juga susah bertemu dengan orang yang tulus dalam membantuku. Aku membutuhkan orang yang datang di saat aku butuh. Bukan hanya saat dia membutuhkanku saja. Pasti kalian paham kan apa yang ku maksud ? Oh teman dekat ya ? atau sahabat ? Ya, benar sekali. 

 

Menurutku, sahabat adalah bukan hanya sekadar teman biasa saja, tetapi yang selalu ada saat suka maupun duka. Sahabat juga anugerah yang Allah SWT berikan kepadaku. Menjadi yang paling akrab dan paling mengertiku selain keluarga. Bahkan aku lebih sering curhat soal apapun kepadanya.

 

Oiya kalian penasaran gak sih ? siapa sahabatku itu. Terus gimana ceritanya dari teman biasa bisa aku anggap jadi saudaraku sendiri.

 

Sebelumnya aku mau memperkenalkan sahabatku dulu ya. Hai, kenalin ini sahabatku nama lengkapnya Nuriyah Nofasari. Satu kampus dengankku namun beda kelas. Aku kenal dengannya saat kami mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bidang olahraga. Kesan pertama ku bertemu dengannya yaitu dia orangnya cuek, jutek lagi, dan terkesan bodo amat hehehe. Eits, jangan bilang-bilang ke dia ya. Hanya kita saja yang tahu. Oke…oke.

 

Kebetulan kami satu forum beasiswa juga dan sama-sama pengurus di jurusanku. Sehingga membuat kami tambah dekat dan ke mana-mana selalu bareng. Mau daftar panitia acara aja nanyain dulu ikut apa engga. 

 

Bukan hanya dekat di kampus saja tapi rumah kami pun dekat. Aku sering banget main ke rumahnya, tetapi selalu nyasar mulu hehe. Makanya selalu dipesen ojek online dari sana. Entah itu mau ngerjain tugas bareng atau sekedar main saja. Aku pun sudah dekat dengan keluarganya apalagi ibunya. Ibunya sangat baik dan sudah aku anggap seperti ibuku sendiri bahkan tidak sungkan cerita kepadanya.

 

Karena kami searah, berangkat kuliah pun barengan. Walaupun ketemuan di manggarai sih. Ia berkata, "udah jalan belum ? udah sampai stasiun belum ? sekarang lagi di mana ? aku udah di peron 8 ya paling depan. Itulah rutinitas tiap pagi ku bersama Nuriyah. Aaaaaa kangen.

 

Ketika aku sedang ada masalah yang tidak bisa kuceritakan kepada orang tuaku. Aku tidak ragu curhat ke dia. Dengan curhat aku merasa lebih ringan. Bukan hanya aku saja, tetapi dia pun begitu. Saling memahami, mendengarkan, dan mengingatkan satu sama lain itulah yang kami lakukan.

 

Orang-orang sering banget beranggapan kalau kami itu satu kelas. Ada yang bilang, kalau kami anak kembar. Gak habis pikir sih, kenapa ada yang bisa bilang seperti itu. Padahal sudah jelas ibu dan bapaknya saja berbeda hehehe. Apa mungkin karena kami sering bareng-bareng kali ya ? terus suka pake baju samaan gitu tanpa direncanakan. Ada juga orang nyapa kami berdua malah terbalik, Nuriyah jadi Yuli dan Yuli jadi Nuriyah hahaha. Ada lagi yang bilang, kalau di situ ada aku pasti ada Nuriyah juga.  Aneh sih tapi kadang lucu kalau diingat-ingat bikin ketawa mulu. 

 

Yang lebih parah adalah orang bilang kalau kami itu terjebak cinta segitiga sama sahabat cowok kami. Padahal sahabat kami itu sudah punya pacar. Asli saat kami tau ada yang beranggapan seperti itu, kami berdua cuma ketawa sangat keras doang. Aneh banget ada yang mikir seperti itu. Catat ya, kita bertiga cuma sahabatan, kalaupun ada rasa ya pasti rasa sayang ke sahabat aja gak lebih, ya kan Nur. 

 

Saat barengan aku dan Nuriyah bukan akur tapi malah selalu ribut, berantem, berisik, dan debat mulu padahal masalah kecil. Sifat asliku keluar ketika bersamanya. Tidak ada kata jaim lagi. Tanpa sadar kebiasaanku dan dia memiliki banyak kesamaan. Makanya aku merasa sangat klop sama dia. Aku dan Nuriyah juga punya sahabat bernama Natasya. Kami bertiga kalau ke mana-mana selalu bareng juga loh.  Jadi trio deh

 

Yang paling kurindukan adalah saat kami sedang lelah-lelahnya soal kampus dan tepatnya masih di perjalanan menuju pulang. Tanpa malu kami nyanyi lagu galau padahal banyak orang di kereta. Itu salah satu hal tergila yang pernah aku lakukan dengannya. 

 

Teruntuk Nuriyah, makasih selalu mengingatkan aku hal kecil dan ketika salah. Makasih sudah mau mendengarkan curhatku, menyemangatiku dalam segala hal, mau direpotkan, dan menemani saat aku bersedih. Aku gak tau mau bilang apalagi, intinya makasih banyak telah hadir dalam hidupku. Kehadiranmu sempurnakan hariku. 

 

Maaf jika aku belum bisa menjadi sahabat terbaikmu. Tapi tenang saja, aku selalu ada dan berusah terus lebih baik…lagi…lagi dari sebelumnya. Terima kasih pernah membuatku merasakan tawa, marah, bahagia, tersenyum, dan kesal kepadamu. Jangan pernah berubah ya. Tetap jadi nuriyah yang aku kenal. Aku sangat bersyukur Allah SWT mempertemukanku denganmu untuk mengisi hariku bersama sahabat yang luar biasa. Terima kasih sudah menjadi sahabatku. Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri.

Minggu, 27 September 2020

Gak Enakan ?

September 27, 2020 141 Comments

Foto : Freepik 
 


Pernah gak sih melakukan sesuatu yang aslinya tuh kalian gak mau. Merasa kalau sangat bertentangan dengan diri sendiri. Namun tetap saja pura-pura setuju padahal hati berkata "tidak".  Iya, itu namanya sifat "gak enakan". Sifat yang sering dialami dan dirasakan. Bahkan, sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia. 

 

Kalian pernah ngerasa ini gak ? Di mana kalian gak bisa nolak, gak enak bilang gak bisa, dan susah untuk mengatakan "tidak" atas apapun permintaan orang lain. 

 

Aku pun pernah berada di posisi tersebut. Ketika ada temenku yang meminta tolong untuk melakukan sesuatu. Padahal aku sendiri sedang tidak bisa karena ada agenda yang harus aku lakukan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyakan permintaanya. 

 

Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan "tidak". Entahlah apa yang ada dipikiranku saat itu. Aku pun masih tidak mengerti, mengapa kata "iya" yang keluar dari mulutku. 


Aku lebih mendahulukan kepentingan orang lain dengan alasan takut menyakiti hati orang lain, takut orang lain kecewa sama aku, takut dikira gak mau membantu, takut... takut…takut itu yang selalu jadi dasarnya. Ketakutan itulah yang tanpa sadar menyakiti diri sendiri.

 

Tidak lama dari itu aku menyesal. Benar penyesalan memang selalu datang belakangan. Bisa-bisanya merelakan, mengabaikan semua kepentingan dan perasaanku hanya demi membahagiakan satu orang. Yang belum tentu, ketika aku meminta tolong kepadanya ia akan bersikap sama sepertiku. 

 

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepada sahabatku. Lalu ia berkata, "Kita boleh baik kepada orang lain, tapi tolong lihat dulu keadaan diri sendiri. Jangan selalu mengatakan iya. Jangan juga terlalu baik sama orang nanti kamu malah yang dimanfaatin".

 

Setelah aku mengetahui dan sadar bahwa hal itu salah. Pelan-pelan aku belajar untuk menolak dan berkata "tidak". Awalnya memang susah namun lama-kelamaan akan terbiasa. 

 

Kesimpulannya :

 

Gak salah kok untuk berkata "tidak". 

 

Berkata "tidak", bukan berarti jahat.

 

Berkata "tidak", bukan berarti gak peduli.

 

Tidak salah memperhatikan orang lain, yang salah itu ketika kita mengabaikan diri sendiri. 

 

Terkadang kita selalu memprioritaskan perasaan orang lain tanpa berpikir perasaan sendiri.

 

Selalu berusaha membahagiakan orang lain nyatanya tidak untuk diri sendiri.

 

Yuk, sama-sama berhenti merasa memiliki kewajiban untuk membahagiakan orang lain. Berhenti berpikir bahwa, kamu bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. 

 

Pada dasarnya bahagia engganya mereka yaitu tanggung jawab mereka sendiri. Kita gak bisa memaksakan semua orang bahagia atas apa yang kita lakukan karena itu di luar kendali. Yang harus kamu ingat adalah kebahagian kamu itu tanggung jawab kamu sendiri. 

 

Aku pernah mendengar bahwa, "persetujuan dan kebahagian itu berbeda. Kalau tetap mempertahankan sikap gak enakan malah kita yang gak dapat kebahagiaan".

 

 

 

 

Kamis, 24 September 2020

Perkenalan

September 24, 2020 0 Comments

Foto : Freepik  

 

Terima kasih loh kalian udah mau mampir ke blog aku. Gimana kalau kita kenalan dulu?
Aku Yuli Nurlaili Amar. Kalian bisa panggil aku Yuli. Aku mahasiswi semester 5, program studi Penerbitan (Jurnalistik), Politeknik Negeri Jakarta.


Semoga dengan adanya blog ini, aku lebih rajin lagi untuk mengasah skill menulis aku terutama di blog ini dan kalian mendapatkan manfaat ketika membaca blog ini.